Senin, 19 November 2012

ALAS DAYANG

Oleh Syifa Faidati

Bagas melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Sesekali berjingkat menghindari tanaman perdu berduri dibawahnya. Tanpa alas kaki, kakinya akan mudah terluka jika ia serampangan. Sebenarnya ia berniat mengeksplorasi hutan yang terdapat di sebuah daerah pelosok di kotanya. Menurut gosip yang beredar, banyak lelembut yang menghuni hutan tersebut.

Tiba-tiba Bagas menghentikan langkahnya. Di depan sana terlihat sebuah gubuk. Rasa-rasanya sangat tepat waktu untuk mengistirahatkan kakinya yang pegal.

“Kula nuwun,” Seksama Bagas memandang isi gubuk dari pintu. Kosong. Karena lelah, Bagas merebahkan diri di dipan.

Betapa terkejutnya dia tatkala menemukan sesosok gadis cantik duduk di sampingnya saat dia membuka mata. Rambut hitam panjangnya menonjolkan kulitnya yang putih pucat.
“Kenapa terbangun? Kau masih lelah bukan? Tidurlah lagi.” Ucap gadis itu sembari mengecup dahi Bagas. Matanya semakin berat. Perlahan-lahan ia kembai tertidur. Tubuhnya merasa sangat nyaman merasakan tangan gadis itu membelai kepalanya. Suaranya yang lembut bagaikan lagu pengantar tidur di telinganya. Sesaat sebelum Bagas terjatuh dalam tidur yang dalam, sayup-sayup ia mendengar gadis itu berkata, “Waktumu telah habis, tinggalah di sini bersamaku. Selamanya.”

DMCA Protection on: http://www.lokerseni.web.id/2011/11/cerpen-remaja-alas-dayang.html#ixzz2Cg0yIvRh

0 komentar:

Posting Komentar